Berita  

Valentinus Robi Lesak SDV, Prapaskah: Waktu Yang Tepat Untuk Menabur Kebaikan

“Janganlah kita bosan berbuat baik, karena pada waktunya kita akan menuai panen kita, jika kita tidak menyerah. Jadi, selagi ada kesempatan (kairos), marilah kita berbuat baik kepada semua orang” (Gal 6:9-10)”.

Kamis, 24 Februari 2022 media resmi Vatikan (vatican.va), merilis pesan Prapaskah 2022 dari Paus Fransiskus (Messaggio del Santo Padre Francesco per la Quaresima 2022). Adapun salah satu poin penting yang disampaikan Bapa Suci dalam pesannya tersebut yakni ajakan kepada seluruh umat Kristen seantero jagat untuk mengisi masa Prapaskah ini dengan terus menabur kebaikan.

“Untuk perjalanan Prapaskah kita di tahun 2022, ada baiknya kita merenungkan nasihat Santo Paulus kepada jemaat di Galatia: “Janganlah kita bosan berbuat baik, karena pada waktunya kita akan menuai panen kita, jika kita tidak menyerah. Jadi, selagi ada kesempatan (kairos), marilah kita berbuat baik kepada semua orang” (Gal 6:9-10)”.

banner 728x90

Sejujurnya tidak terlalu sulit bagi kita untuk memahami intisari dari pesan di atas. Bahwasannya ajakan untuk terus menabur kebaikan (yang dijalankan atas dasar cinta tentunya) merupakan sesuatu yang selalu urgen sekaligus aktual dalam kaitannya dengan tanggung jawab dan kapasitas solidaritas kita terhadap orang lain terutama orang-orang kecil dan yang menderita.

Sehingga hemat penulis, sangat menarik bagi kita untuk merenungkan secara lebih mendalam ajakan dari Bapa Suci di tengah fenomena globalisasi yang sering kali lemah dalam menghayati kasih terhadap sesama.

Sekarang mari kita lihat situasi di sekitar kita. Di jalan-jalan kita menemukan begitu banyak orang miskin dan yang menderita. Korban ketidakadilan. Mereka yang terpinggirkan, yang menjalani kenyataan hidup yang sangat keras, penuh dengan penderitaan.

Orang miskin yang seringkali hanya memiliki kekuatan untuk meminta dan hanya memiliki satu sumber dengan menunggu kebaikan dan belas kasihan dari sesamanya. Mereka yang menderita karena ketidakpedulian kita.

Di hadapan kenyataan seperti ini, Paus Fransiskus telah menunjukkan kepada kita sebuah optio fundamentalis (pilhan mendasar) yakni keputusan untuk membuka hati bagi mereka yang hidup dalam penderitaan.

Berhadapan dengan penderitaan yang dialami oleh sesama kita semua harus tampil sebagai pribadi yang memiliki sense of responsibility (sikap tanggung jawab) dan sense of belonging (sikap memiliki). Undangan untuk bertanggung jawab atas orang-orang miskin tentu merupakan suatu undangan yang mulia.

Emmanuel Levinas seorang filsuf kontemporer asal Prancis, pernah berkata: “….The epiphany of the face opens humanity – epifani wajah membuka tabir kemanusiaan.” Artinya, ketika kita berhadapan dengan sesama yang menderita selalu saja ada tuntutan etis untuk menanggapi situasi yang dialaminya. Di hadapan penderitaannya, aku tidak mungkin berdiam diri. Aku terobsesi oleh ketakberdayaannya.

Penderitaan dan ketakberdayaannya senantiasa mengganggu diriku. Gangguannya adalah sebuah gangguan kemanusiaan. Aku dibangunkan dari sikap mementingkan diri dan pergi menyapa dirinya. Dengan kata lain, di hadapan orang-orang yang menderita, meminjam nasihat moral Albertus Magnus (teolog Jerman), “yang baik harus dikerjakan, yang jahat harus dihindari” (bonum faciendum, malum vitandum). Atau dalam ungkapan Thomas Aquinas, “ikutilah dan lakukanlah yang baik serta hindarilah yang jahat” (bonum est faciendum et prosequendum et malum vitandum).

Selagi Masih ada Kesempatan
Masa Prapaskah, demikian tulis Paus Fransiskus mengajak kita untuk bertobat, pada perubahan pola pikir, agar kita tidak mencari kebenaran dan keindahan hidup dalam ‘memiliki’ tetapi dalam ‘memberi’.

Ajakan di atas merupakan suatu bentuk alarm bagi kita, mengingat dalam kehidupan sehari-hari kita terlalu sering dikuasai oleh keserakahan, kesombongan dan keinginan untuk memiliki, mengumpulkan dan mengkonsumsi lebih banyak ketimbang kepekaan rasa untuk berbagi kasih dan perhatian terhadap sesama. Kita seringkali menutup mata terhadap penderitaan dari sesama. Dan inilah yang disebut dengan sikap a-patos (cuek, masa bodoh) yakni sebuah disposisi mental yang tidak peduli dengan situasi dan malah merasa tidak penting untuk direspon.

Maka benarlah Martin Luther King, seorang aktivis anti rasialisme dari Amerika Serikat sekaligus peraih nobel perdamaian tahun 1963, ketika ia mengatakan “tidak ada yang lebih tragis di dunia ini daripada mengetahui apa yang baik dan yang benar tetapi tidak melakukannya.”

Di atas semuanya itu, kita juga harus mengakui bahwa menabur kebaikan itu bukan sebuah perkara yang mudah. Tentu tidak semudah dengan apa yang kita bicarakan. Ada banyak kesulitan, penderitaan dan kenyataan suram lain yang kita hadapi. Ini adalah tantangan yang kita hadapi.

Tentang hal ini, Santa Teresa dari Kalkuta dengan indah menasihati kita bahwa: “kebaikan yang kita lakukan hari ini, mungkin besok dilupakan oleh orang lain, tetapi bagaimana pun juga teruslah berbuat baik.” Atau dalam rumusan Voltaire, , Filsuf Prancis: “every man is guilty of all the good he didn’t do” (setiap orang bersalah atas semua kebaikan yang tidak dia lakukan).

Akhirnya selagi masih ada waktu, marilah kita mempraktekkan panggilan kita untuk berbuat baik kepada semua dan meluangkan waktu untuk mengasihi yang miskin dan membutuhkan, mereka yang ditinggalkan dan ditolak, mereka yang didiskriminasi dan terpinggirkan (bdk. Paus Fransiskus, Fratelli Tutti, 193)..

Penderitaan dan ketakberdayaannya senantiasa mengganggu diriku. Gangguannya adalah sebuah gangguan kemanusiaan. Aku dibangunkan dari sikap mementingkan diri dan pergi menyapa dirinya. Dengan kata lain, di hadapan orang-orang yang menderita, meminjam nasihat moral Albertus Magnus (teolog Jerman), “yang baik harus dikerjakan, yang jahat harus dihindari” (bonum faciendum, malum vitandum). Atau dalam ungkapan Thomas Aquinas, “ikutilah dan lakukanlah yang baik serta hindarilah yang jahat” (bonum est faciendum et prosequendum et malum vitandum).

Selagi Masih ada Kesempatan

Masa Prapaskah, demikian tulis Paus Fransiskus mengajak kita untuk bertobat, pada perubahan pola pikir, agar kita tidak mencari kebenaran dan keindahan hidup dalam ‘memiliki’ tetapi dalam ‘memberi’.

Ajakan di atas merupakan suatu bentuk alarm bagi kita, mengingat dalam kehidupan sehari-hari kita terlalu sering dikuasai oleh keserakahan, kesombongan dan keinginan untuk memiliki, mengumpulkan dan mengkonsumsi lebih banyak ketimbang kepekaan rasa untuk berbagi kasih dan perhatian terhadap sesama. Kita seringkali menutup mata terhadap penderitaan dari sesama. Dan inilah yang disebut dengan sikap a-patos (cuek, masa bodoh) yakni sebuah disposisi mental yang tidak peduli dengan situasi dan malah merasa tidak penting untuk direspon.

Maka benarlah Martin Luther King, seorang aktivis anti rasialisme dari Amerika Serikat sekaligus peraih nobel perdamaian tahun 1963, ketika ia mengatakan “tidak ada yang lebih tragis di dunia ini daripada mengetahui apa yang baik dan yang benar tetapi tidak melakukannya.”

Di atas semuanya itu, kita juga harus mengakui bahwa menabur kebaikan itu bukan sebuah perkara yang mudah. Tentu tidak semudah dengan apa yang kita bicarakan. Ada banyak kesulitan, penderitaan dan kenyataan suram lain yang kita hadapi. Ini adalah tantangan yang kita hadapi.

Tentang hal ini, Santa Teresa dari Kalkuta dengan indah menasihati kita bahwa: “kebaikan yang kita lakukan hari ini, mungkin besok dilupakan oleh orang lain, tetapi bagaimana pun juga teruslah berbuat baik.” Atau dalam rumusan Voltaire, , Filsuf Prancis: “every man is guilty of all the good he didn’t do” (setiap orang bersalah atas semua kebaikan yang tidak dia lakukan).

Akhirnya selagi masih ada waktu, marilah kita mempraktekkan panggilan kita untuk berbuat baik kepada semua dan meluangkan waktu untuk mengasihi yang miskin dan membutuhkan, mereka yang ditinggalkan dan ditolak, mereka yang didiskriminasi dan terpinggirkan (bdk. Paus Fransiskus, Fratelli Tutti, 193).

banner 728x90

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.