Pentingnya Menjaga Kesehatan Gigi Pada Anak

“Peran aktif orang tua terhadap perkembangan anak–anaknya sangat diperlukan terutama pada saat mereka masih berada dibawah usia lima tahun atau balita, untuk meningkatkan kecerdasan moral anak” Della_Jehada
Manggarai, WaktoeNTT.Net – Memiliki mulut dan gigi yang sehat itu penting untuk mendukung tumbuh kembang sang buah hati. Tidak hanya memudahkan anak berbicara dan melumatkan makanannya, adanya gigi juga membantu membuat penampilan anak menjadi lebih menarik. Melakukan perawatan gigi yang baik mencegah munculnya plak, lapisan bakteri yang menempel pada gigi.

Setelah selesai makan, bakteri akan begitu senang karena ada gula yang menempel pada gigi, seperti semut yang menemukan makanan yang diincarnya. Bakteri ini memecah gula menjadi asam yang memakan email gigi, membuat gigi menjadi mudah berlubang. Adanya plak pada gigi juga memicu munculnya penyakit yang menyebabkan gusi membengkak, memerah, dan menyakitkan.

Data Riset Kesehatan Dasar Kementrian Kesehatan Republik Indonesia 2022 (RISKESDAS 2022) menunjukkan bahwa proporsi penyakit rongga mulut di Indonesia masih tinggi yaitu mencapai 57,6%. Bila ditinjau berdasarkan usia, proporsi 67,3% dari usia 5-9 tahun, dan 55,6% dari usia 10-14 tahun. Hal tersebut menunjukkan bahwa proporsi penyakit rongga mulut pada anak usia sekolah cukup tinggi.

banner 728x90

Pemerintah telah melaksanakan upaya penanggulangan dan pencegahan dengan program Usaha Kesehatan Gigi Sekolah (UKGS). Program UKGS ini merupakan bagian integral dari Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) yang melaksanakan pelayanan kesehatan gigi dan mulut secara terencana pada para siswa terutama siswa Sekolah Tingkat Dasar (STD) dalam suatu kurun waktu tertentu dan diselenggarakan secara berkesinambungan.

Kegiatan UKGS dilaksanakan oleh tenaga pelaksana UKGS yang terdiri dari  tenaga pelaksana di sekolah meliputi guru olahraga dan dokter kecil yang telah dilatih tentang kesehatan gigi dan mulut. Serta tenaga pelaksana di puskesmas meliputi dokter gigi dan perawat gigi/ tenaga kesehatan lain yang telah dilatih. Adapun kegiatannya meliputi kegiatan preventif, promotif dan kuratif.

Upaya promotif dilakukan dengan pelatihan guru dan petugas kesehatan gigi serta pendidikan/ penyuluhan kesehatan gigi dan mulut yang dilakukan oleh guru terlatih kepada siswa. Upaya preventif meliputi sikat gigi masal minimal untuk kelas I, II, dan kelas III dengan memakai pasta gigi yang mengandung fluor minimal 1 kali/bulan dan penjaringan kesehatan gigi dan mulut.

Namun perilaku menjaga kesehatan gigi sebenarnya sangat penting diajarkan sejak dini kepada anak.

Peran aktif orang tua terhadap perkembangan anak–anaknya sangat diperlukan terutama pada saat mereka masih berada dibawah usia lima tahun atau balita, untuk meningkatkan kecerdasan moral anak. Sikap dan perilaku orang tua dalam pemeliharaan kesehatan gigi memberi pengaruh yang cukup signifikan terhadap perilaku anak.peran orang tua terbukti memiliki hubungan yang signifikan antara kejadian karies gigi pada anak.

Orang tua dapat lebih meningkatkan perannya dalam kesehatan gigi dan mulut terutama pada pengawasan saat menyikat gigi, pemeriksaan gigi ke dokter, penggantian sikat gigi yang lama dan penyedian obat kumur untuk anak.

Selain orangtua, sekolah juga memiliki peran penting dalam dalam menjaga kesehatan gigi pada anak.

Beberapa Penelitian yang dilakukan, bahwa jika Fit for School ini dijalankan dengan baik dan benar, maka mengurangi karies gigi 40-56 persen. Pendekatan pelayanan dokter gigi ke kelompok-kelompok tertentu, seperti sekolah, keluarga, lembaga-lembaga dan langsung turun ke masyarakat dapat mempercepat peningkatan derajat kesehatan gigi mulut masyarakat.

Fit For School adalah merupakan sebuah program intervensi kesehatan lintas sektor yakni antara kesehatan, pendidikan dan masyarakat.

Program Fit For School ini terdiri dari tiga kegiatan dasar yaitu cuci tangan setiap hari dengan sabun, menyikat gigi setiap hari dengan pasta gigi flouride dan minum obat cacing 2 kali setahun. Kegiatan fit for School ini dengan sendirinya akan mendukung pelembagaan program perawatan kesehatan esensial sebagai bagian dari kegiatan sekolah sehari-hari.

Dengan menggunakan sistim sekolah untuk program kesehatan ini, akan dapat menghasilkan indikator kesehatan yang meningkat tajam dengan biaya yang sangat rendah oleh karena itu program ini dapat dengan mudah di implementasikan di semua sekolah.

Coba anda Bayangkan, bilamana kegiatan ini dilaksanakan secara kolektif dengan biaya 1 siswa per tahun hanya Rp 9.000 dan ini dapat dipastikan tidak memberatkan orang tua siswa kalau dibandingkan dengan uang jajan siswa yang  Rp5.000 per hari atau 5000 x 366 hari sama dengan 1.830.000 rupiah pertahun. Murahnya biaya kolektif ini tentu sangat menguntungkan baik dari segi siswa (orang tua) maupun pihak sekolah.

Program Fit For School dinyatakan telah berhasil menurunkan tingginya prevalensi penyakit karies gigi pada anak sekolah.

Beberapa penelitian bahkan menyatakan dapat menurunkan 60% kasus karies gigi, juga menurunkan sampai 70% kasus diare dan 50% kasus kecacingan. Bila program ini mampu menurunkan begitu banyaknya anak yang tidak karies gigi lagi tentu semakin banyak anak yang nyaman dan konsentrasi dalam belajar.

Bila kasus sakit gigi berkurang pada anak sekolah tentu tingkat kehadiran anak semakin tinggi dan jumlah jam belajar semakin maksimal dan semua itu akan meningkatkan prestasi belajar siswa dan gilirannya bangsa ini semakin cerdas.

banner 728x90