Blog  

Nama Dari Allah Adalah BelasKasih

Valentinus Robi Lesak, SDV

Beberapa tahun yang lalu, tepatnya pada 12 Januari 2016, terbit sebuah buku baru dari Paus Fransiskus dengan judul: “Il nome di Dio ѐ il misericordioso – Nama dari Allah adalah Belas kasih.”

Ada pun buku tersebut merupakan hasil wawancara dengan Andrea Tornielli, seorang jurnalis kondang asal Italia. Buku ini merupakan kumpulan jawaban Paus Fransiskus atas 40 (empat puluh) pertanyaan dari Tornielli dan dibagi menjadi 9 (sembilan) bab.

banner 728x90

Tema utama yang disajikan dalam buku ini adalah tentang Kerahiman Allah yang tak terbatas. Tuhan digambarkan sebagai Allah yang berbelas kasih. Atau dengan kata lain, belas kasih merupakan kartu identitas dari Allah sendiri.

Dia sendiri, seperti yang diceritakan dalam Kitab Keluaran, mengungkapkan diri-Nya kepada Musa sebagai: “Tuhan, Tuhan, Allah penyayang dan pengasih, panjang sabar, berlimpah kasih-Nya dan setiaan-Nya” (Bdk. Kel. 34:6).

Gambaran tentang hakikat Allah yang Maha Rahim itu dapat kita temukan dalam perumpamaan mengenai anak yang hilang (bdk. Luk. 15:11-32).

Perumpamaan mengenai anak yang hilang ini disampaikan oleh Yesus guna menanggapi ‘celoteh’ kaum Farisi dan ahli-ahli Taurat tatkala melihat diri-Nya duduk, bergaul dan makan bersama dengan para pendosa. Sekali lagi, melalui analogi ini kita semua diingatkan bahwa Allah yang kita imani adalah Allah yang penuh belas kasih dan kasih-Nya itu tertuju kepada siapa saja, khususnya para pendosa yang mau mendekatkan diri kepada-Nya (bertobat). Dari perumpamaan ini, kita dapat melihat beberapa pesan penting untuk kita renungkan bersama.

Permintaan Si Bungsu

Perlu diketahui bahwa masyarakat Yahudi abad pertama mewarisi secara ketat hukum Musa dan juga tradisi-tradisi Yudaisme. Ada suatu kebiasaan di dalam masyarakat Yahudi di mana pembagian harta warisan di dalam suatu keluarga dapat dilakukan menjelang atau pada saat sang ayah meninggal dunia.

Maka bertitik tolak dari latar belakang tradisi ini, permintaan si bungsu: ”bapa, berikanlah kepadaku bagian harta milik kita yang menjadi harta milikku’, dapat ditafsirkan demikian: “bapa, aku berharap engkau segera mati sehingga aku dapat memiliki bagian dari warisan tersebut.”

Orang Yahudi sendiri memahami permintaan seperti ini sebagai suatu pemberontakan atau sikap membangkang. Sehingga sebagai konsekuensi, si bungsu seharusnya dilempari dengan batu sampai mati di hadapan orang banyak. Kalau pun kita ingin melihat lebih jauh, permintaan si bungsu merupakan gambaran diri manusia yang selalu gelisah, gambaran diri yang selalu ingin menuntut dan ingin dipuaskan meski dengan cara memberontak.

Atas permintaan si bungsu di atas, muncul sebuah pertanyaan gugatan yakni mengapa Sang ayah membiarkan begitu saja dan mengabulkan permintaan dari anaknya? Bukankah ia punya hak atas harta miliknya? Atau menolak permintaan tersebut? Pembiaran dari sang ayah merupakan sebuah awal perjalanan yang akan menuntun si bungsu itu kembali lagi kepada sang ayah. Ia dibiarkan untuk pergi agar tiba waktunya dimana ia akan kembali dengan hati yang baru.

Belas Kasih Sang Ayah

Kalau kita membaca dan memahami perumpamaan ini dalam logika manusia, maka muncul sebuah tendensi untuk memberikan hukuman kepada mereka yang berbuat salah dan pahala bagi mereka yang melakukan kebaikan. Argumentasi “hukuman dan pahala” merupakan sesuatu yang lazim terjadi, juga di masyarakat kita. Tetapi, Lukas melalui analogi ini mau memberikan penekanan akan Allah yang lambat marah dan penuh kasih.

Dia yang Maha Pengasih itu, dalam kebesaran-Nya selalu membungkuk kepada mereka yang lemah, selalu siap menyambut dan memaafkan para pendosa yang datang kepada-Nya. Dia seperti seorang ayah dalam perumpamaan di atas yang “tidak membenci kepergian” putranya yang bungsu, tetapi sebaliknya terus menunggunya. Dan ketika anaknya pulang, dia pun bangkit kemudian berlari untuk menemui putranya itu lalu memeluknya dalam kasih. Gambaran ini senada dengan apa diungkapkan oleh Paus Yohanes Paulus II dalam ensikliknya “Dives in Misericordia – Kaya dalam Kerahiman” bahwa: “… dalam analogi (anak yang hilang) yang sederhana namun sangat dalam ini sosok sang bapa itu memperlihatkan kepada kita sosok Allah sebagai Bapa. ….Sang bapa dari anak yang hilang itu setia pada sifat kebapaannya, setia pada kasih yang selalu dicurahkannya kepada anaknya.

Kesadaran Diri Sebagai ” Yang Berdosa”

Menarik bahwa di dalam situasi penderitaan yang menimpah dirinya, si bungsu pun menjadi sadar atas kesalahan dan dosanya. Pada situasi inilah ia membuat keputusan: “Aku akan bangkit dan pergi kepada bapaku dan berkata kepadanya: Bapa, aku telah berdosa terhadap surga dan terhadap bapa, aku tidak layak lagi disebutkan anak bapa; jadikanlah aku sebagai salah seorang upahan bapa” (Bdk. Luk. 15:18-19).

Perjalanan pulang si bungsu kembali ke rumah ayahnya melambangkan sikap pertobatannya yang sejati. Berjalan pulang mesti menjadi ikhtiar setiap pribadi ketika hati dan hidupnya sedang remuk karena dosa-dosanya. Sebab, Allah yang kita imani namanya adalah belas kasih. Dia adalah Tuhan yang membenci dosa dan bukan membenci pendosanya, demikian kata Santo Agustinus.

banner 728x90

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.