Mengenal Sanggar Seni dan Budaya “Nipu Wintuk”

WaktoeNTT.Net – Alunan musik berdendang menyambut para penari yang memasuki lapangan dengan kostum dan riasan di wajah mereka.

Senyuman yang selalu terbingkai dan gerakan tangan serta tubuh mengekpresikan sebuah cerita melalui tarian yang mereka bawakan.

banner 728x90

Penonton mengelilingi lapangan menyaksikan para penari menampilkan tariannya, sesekali terdengar sorak sorai penonton dan tepuk tangan.

Empat (4) gadis cilik yang tergabung dalam Sanggar Budaya Seni ” Nipu Wintuk” mengenakan busana Songke Manggarai keemasan dengan baju putih tampak lincah melompat mengikuti iringan bambu yang dimainkan oleh 4 gadis lainnya yang bertugas memainkan bambu diikuti paduan irama musik Gendang dan lagu asli Manggarai di Natas Gendang Waso, Kelurahan Waso, Langke Rembong, dalam rangka memperingati hari Kartini yang digelar Rumah Gendang Kreasi Waso,(RGKW) dengan tema Work Shop “Mai Ga Rojok Sesi III), pada Kamis (21/4).

Kaki, tangan dan mata mereka terus bergerak bak kijang-kijang yang sedang bercengkerama.

Di belakang panggung terpasang layar lebar berisi video siaran langsung Rojok Loce yang diperlihatkan seorang ibu kepada sosok atau inisiator pendiri Rumah Gendang Kreasi Waso (RKGW).

Tanpa mempedulikan dinginnya suhu di Natas Gendang Waso yang hampir mencampai 18 Derajat Ceilcius, tarian ” Rangkuk Alu ” secara kompak dipertontonkan 8 gadis cantik bagi undangan yang ingin melihat secara langsung aksi mereka.

Tak hanya menari di tengah lapangan dan ditonton oleh undangan yang hadir. Dalam tariannya, mereka mencoba untuk bercerita melalui gerakan tari, bahwa tari “Rangkuk Alu” tidak hanya sekedar tarian biasa.

Selain sebagai sarana hiburan, Tari Rangkuk Alu juga bisa menjadi sarana edukasi dan pembentukan diri. Dalam memainkan tarian ini dapat melatih kelincahan dan melatih ketepatan dalam bertindak. Selain itu bagi masyarkat di sana, tarian ini tentu juga mengandung nilai-nilai filosofis dan spiritual di dalamnya.

Ditemui seusai pentas, salah seorang penari, Minda (13), mengatakan telah mengikuti latihan selama beberapa minggu untuk persiapan hari Kartini 21 April.

“Latihannya 2 minggu, untuk tari Rangkuk Alu.. Saya memang suka menari sejak kelas 3 SD,”ujar Minda.

Sanggar Budaya Nipu Wintuk

Ketua Sanggar Budaya ‘Nipu Wintuk”, Silvianus Robiyanto bertekad merawat kearifan local melalui pengembangan wisata berbasis budaya Manggarai. Dimana tekad masyarakat tersebut sudah diwujudkan dengan pembentukan wadah Sanggar Nipu Wintuk.

“Kendati Sanggar Nipu Wintuk ini belum dikenal, tetapi kami berkomitmen untuk mmerawat kearifan lokal Manggarai melalui sanggar ini ,”Kata Roby.

Menurutnya, selama ini kelompok Sanggar Nipu Wintuk sebenarnya sudah melaksanakan aktivitas-aktivitas seni yang berbasis kearifan lokal Manggarai. Akvitas mereka antara lain menciptakan, menggali lalu menyanyikan lagu-lagu khas Manggarai (nenggo, landu), membuat alat-alat musik khas Manggarai seperti gendang, seruling, mbetung, juk (gitar local) yang semua bahannya dari alam sekitar tempat mereka tinggal.

“Kelompok masyarakat yang tergabung dalam Sanggar Nipu Wintuk ini sudah berjalan. kami secara rutin berkumpul setiap sore, bernyanyi dan memainkan alat-alat musik tradisional. Aktivitas itu kami coba publikasikan melalui kanal media social seperti Facebook dan Youtube,” jelasnya Sang Inisiator sanggar Nipu Wintuk.

Untuk diketahui Nipu Wintuk adalah sebuah Go’et (ungkapan) Manggarai. Nipu artinya mengikuti, mengingat, sedangkan wintuk artinya arahan, nasihat, petuah. Nipu Wintuk dalam konteks ini lebih kepada mempertahankan kearifan yang diwariskan oleh leluhur Manggarai.

banner 728x90

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.