Dua Desa di Kabupaten Manggarai Terpilih Jadi Model Desa Ramah Perempuan dan Peduli Anak (DRPPA)

Manggarai, WaktoeNTT.Net – Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) RI menobatkan 2 desa di Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT) menjadi desa ramah perempuan dan peduli anak.

Adapun 2 desa yang di pilih Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) yakni Desa Satar Ngkeling dan Desa Bangka Kenda, Kecamatan Wae Ri’i.

Dalam sambutan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Republik Indonesia, I Gusti Ayu Bintang Darmawati, yang dibacakan Asisten Deputi Perlindungan Khusus Anak dari Kekerasan, Ciput Eka Purwianti mengatakan, konsep Desa Ramah Perempuan dan Peduli Anak (DRPPA) sangat penting dikembangkan karena diskriminasi gender masih banyak terjadi.

banner 728x90

“Diskriminasi gender masih banyak terjadi di desa maupun di kota, di rumah, tempat kerja dan di ruang publik,”kata Ciput di Aula Ranaka, saat Launching DRPPA, Senin (13/06/22).

Ciput menjelaskan, diskriminasi gender beragam bentuknya mulai dari stereotype, marjinalisasi, subordinasi, beban ganda namun yang paling sering terjadi adalah kekerasan seksual pada anak.

Kekerasan seksual pada anak masih sering terjadi sampai dengan saat ini. Dari berbagai kasus kekerasan seksual sebagian orang menganggap itu adalah salah anak itu sendiri. Padahal kekerasan seksual bisa terjadi akibat pelaku yang memang bermasalah. penyebab kekerasan seksual bisa terjadi akibat kecanduan menonton film porno, ingin mengikuti adegan di film porno namun tak memiliki pasangan, atau bisa juga karena kecanduan narkotika atau minuman beralkohol.

Maka dari itu, lanjut dia, DRPPA di 2 desa yang terpilih di Kabupaten Manggarai, tentunya memerlukan dukungan dengan berbagai langkah progresif, seperti peningkatan kapasitas pemerintah desa mengenai kesetaraan gender, pemenuhan hak perempuan, dan perlindungan anak, serta berbagai strategi lainnya.

Desa Ramah Perempuan dan Peduli Anak (DRPPA) dibentuk untuk menyelesaikan berbagai isu terkait perempuan dan anak sebagai dampak dari sistem pembangunan yang belum berpihak kepada mereka.

“Pengembangan sebuah desa menuju DRPPA harus melibatkan seluruh pihak yang ada di desa, mulai dari pemerintah desa, para tokoh masyarakat, tokoh adat, tokoh agama, organisasi relawan, kader-kader, hingga perempuan dan anak itu sendiri,”kata Ciput.

Lebih lanjut dia menjelaskan, untuk mewujudkan Desa Ramah Perempuan dan Peduli Anak ini harus melibatkan partisipasi perempuan mulai dari proses perencanaan pembangunan dari tingkat desa dan juga keterlibatan dari anak-anak melalui Forum Anak.

Selain memberikan perlindungan kepada anak, lanjut dia, pola pengasuhan anak harus disesuaikan dengan era digital saat ini, mengingat banyak bahaya yang mengancam anak di ranah daring.

Ciput melihat pada pola asuh pada era digital ini, baik anak maupun orang tua, keduanya harus melek digital, sehingga literasi digital keduanya terpenuhi dengan pola pengasuhan anak saat era digital sekarang ini yang harus diperhatikan. Salah satunya, orang tua harus paham bahwa ada fitur kontrol orang tua, parenting control, di semua platform daring yang ada.

“yang kami harapkan, sejak dini dengan mengedepankan hak anak untuk mendapatkan atau memberikan informasi yang layak, dan tentu tidak menyampaikan informasi dengan vulgar tetapi betul-betul memenuhi kriteria informasi yang layak”,tutupnya.

Turut hadir dalam acara Launching Desa Ramah Perempuan dan Peduli Anak tersebut yakni, Bupati Manggarai, Herybertus G.L Nabit, Sekertaris Daerah, Fansy Aldus jahang, Kadis BKKBN, Silvester Hadir, Kadis Pendidikan, Fransiskus Gero, Staf Ahli dan Asisten Bupati Manggarai, TP PKK Kabupaten Manggarai

banner 728x90